Archive for the 'Uncategorized' Category



05
Feb

Sebuah Catatan Singkat Untuk Florine 1

Sebuah Catatan Singkat Untuk Florine

Kekuasaan bukan segala-galanya sebagai jalan untuk mengubah sesuatu, kekuasan mungkin mengambil sebagian kecil dari sepenggalah “episode” dalam perubahan  itu sendiri. Jadi jelas persoalan merubah sesuatu bukan semata-mata kekuasaan. Jadi jelas bahwa apa yang seharusnya digarap bukan sekedar menggarap kekuasaan semata-mata. Kekuasaan mungkin mengambil peran struktural dalam perubahan, membuat sebuah perubahan tanpa memperhitungkan peran struktural, jelas sebuah perubahan yang mengada-ada. Pada saat lengsernya Soeharto, mungkinkah, hanya demo mahasiswa sebagai sebuah tekanan semata. Mungkin kita luput dari ingatan bahwa ada sebagai dari menteri di kabinetnya Soeharto yang mengundurkan diri. Maksudnya sangat mungkin bahwa pembangkangan secara struktural anggota kabinet  tersebut, bisa sangat jadi adalah faktor yang tentu saja menjadi perhitungan dari analisa kita tentang perubahan.

Seperti kita ini misalnya. Berapa tahun sebenarnya kita fasih setiap harinya bicara tentang reformasi, tapi, apa mungkin kita memang sampai pada sebuah jalur yang benar. Sehingga tentu saja mempengaruhi tujuan kita pula untuk memperbaiki. Tentu ini bukan satu pertanyaan individual, melainkan sebuah keluahan komunal dari bangsa yang tengah mengalami sebuah stagnasi akutnya yang luar biasa. Dan istirahat ditempat pada bukan tempatnya. Jadilah bangsa ini bangsa yang “begini”.

Apa lengsernya Soeharto lantas akan memperbaiki keadaan. Suatu perubahan telah terjadi. Entah apa namanya yang pasti mungkin sedikit banyak dalam pandangan  awam, kira-kira begini : harga-harga melonjak sekian kali lipat, kitapun pernah mengalami masa “ngantri” beras beberapa tahun yang lalu, kondisi keamanan yang semakin meningkat tidak aman, masalah kenakalan pelajar yang semakin hari bertambah makin “ganas” dan “beringas”. Belum lagi masalah obat-obatan terlarang.

Apasih yang kita mengerti tentang kapitalisme ?

Apakah kapitalis sekedar Amerika, sekedar modal, sekedar penghisapan, sekedar perusahaan multinasional yang memiliki kantornya dimana-mana dipelosok dunia ini.Terus terang pertama kali anda bilang, anda “benci kapitalis” jelas ada semacam kebanggan didiri saya pribadi mengenai sosok anda. Namun itu juga menimbulkan pertanyaan baru, bahwa kapitalisme yang anda maksud itu yang mana?

Pandangan terhadap, Pandangan Anda Tentang Kapitalisme

Mungkin, bisa jadi siapapun bisa teriak anti kapitalis. Permasalahannya sekarang atas dasar apa sebuah kapitalis memang harus kita hujam. Sedangkan jangan-jangan, padangan kita tentang kapitalis itu sendiri terlampau cetek dan tidak berdasar sama sekali dan jauh dari argumentasi yang memadai. Hal ini jelas untuk membedakan, suatu pandangan yang teramat simplistis, terhadap kebencian pada suatu negara atau kelompok.

Belum lagi pertemuan anda dengan ruang “kapitalis” tadi merupakan oleh-oleh ruang menara gading yang jauh dari sisi realisme, romantisme, dan pengalaman yang justru sangat penting untuk memahami realitas sesungguhnya tentang binatang bernama “kapitalis” tadi. Atau jangan-jangan seperti yang dikatai oleh Yudi Latif. “disonansi intelektual”—anda sedang teriak anti rokok, sementara mulut anda menghisap sebatang daripadanya. Ini jelas bukan sekedar ungkapan untuk sekedar meledek, secara satir. Bukan itu maksudnya. Tapi memahami noumena mungkin jauh lebih penting dan utuh daripada sekedar memahami fenomena secara sepotong-sepotong. Jelas kebencian kita terhadap sesuatu adalah bukan kebencian mitos. Dan sementara kesadaran anda sepenuhnya belum final dan matang.

Mitoslah yang akhirnya membuat polusi dalam lingkungan mental kita karena perbahasaan yang kita gunakan. Maka dalam kaitan ini tentu anda perlu menyimak apa yang diperingatkan oleh Roose

Poole

dalam Morality and Modernity (1991) ketika ia membahas rasio komunikasi dari Habermas : “ Pemakaian bahasa hanya akan memiliki otoritas moral untuk membendung perluasan lebih lanjut dari rasio instrumental, kalau bahasa itu sendiri tercakup dalam sebuah teori yang lebih komprehensif mengenai kebaikan manusia”.

Jadi ada dimana kesadaran anda akan kata-kata anda?

Betapa Hipokritnya kita. Kita bicara tentang perbaikan moral sementara kita sendiri mungkin alpa bahwa ada sesungguhnya yang menjadi landasan krisis moral itu, sementara kita membiarkan polusi “ruang batin” kita. Bayangkan bagaimana hipokritnya kita.

Mungkin benar, bahwa kita membenci kapitalis, tapi juga kita boleh memnyimak apa yang diungkapkan opleh Teman saya Jumhur Hidayat. dari sebuah tulisan yang ditujukan kepada kawannya saat ia tengah di Penjara Suka Miskin,

Bandung

, tahun 1991 : “pengeksploitasian hubungan cinta muda-mudi yang diwujudkan dalam bentuk film, perhiasan, hura-hura dan sebagainya, pada intinya tidak lain adalah pemenuhan kepuasan murahan. Begitu juga halnya dengan hari-hari yang sebelumnya tidak bernilai profit, setelah disentuh dengan tangan kapitalis berubah menjadi bernilai profit seperti hari kasih sayang (Valentine, 14 Pebruari)

Dalam sebuah tayangan televisi yang mengulas acara otomotif. Dalam salah satunya menampilkan sekual mengenai klub otomotif anak muda. Berderet mobil-mobil mewah lengkap dengan ulasan variasinya yang jelasnya tentu juga menguras decak kagum. Berapa banyak uang yang harus keluar, jangan dulu bicara harga mobilnya, tapi “dandanan” mobilnya saja sudah bikin sebagian manusia kita mungkin tertawa nyinyir (tertawa sambil menangis). Kok bisa ya?… Lantas seorang kawan nyeletuk ; “gimana kalo yang kayak gini nih BPK langsung “bergerak”—anak-anak siapa tuh?, kalau ternyata anak pejabat publik dari mana uangnya?

Kan

bisa langsung diperiksa, nah kalo kayak gitu ceritanya,

Indonesia

bisa cepet keluar dari krisis”.

Tugas para  intelektual adalah menarik gerbong “ Revolusi Mental” dengan motornya : “hasrat jiwa untuk menolong sesama”, sebuah metodologi alternatif untuk memperjuangkan orang-orang tertindas (“Revolusi Tanpa Darah”). M. Dawam Rahardjo.

Tesis Paulo Freire ; dalam Fear of Freedom: Authoritarian can be so tempting, freedom can be so fear: bahwa manusia akan takut kepada kebebasan jika sudah terlalu lama ditindas atau ditekan.

Teori adalah jaring untuk menangkap realitas sosial, demikian kata Ralf Dahrendorf.

04
Feb

Annyong-hi gyeseyo SBY

Annyong-hi gyeseyo SBY

MOHAMMAD HAMDAN

Annyong-hi gyeseyo dalam bahasaKorea

berarti selamat tinggal. Sedangkan SBY sama-sama kita tahu bahwa saat ini ialah presiden RI saat ini. Presiden pertama dalam sejarah demokrasi kita yang dipilih secara langsung. Dan ini tentu sebuah buah dari perjalanan demokrasi yang “lumayan” cepat dan berhasil.

Dari tahun pertama menjabat sebagai presiden hingga hari ini kita sangat-sangat prihatin, dan terus menerus mengurut dada. betapa tidak. karena dialah Presiden yang setiap harinya “mengurus” bencana. mulai dari gempa di merauke, tidak lama Tsunami, dan tidak lama wabah Flu burung, tidak lama kemudian disusul kecelakaan kereta, tiba-tiba meledaklah Lumpur lapindo, milik seorang anggota cabinet. Disusul pula kecelakaan kapal laut. dan ironis 2007 ini diawali sebagai tahun bencana dengan “raibnya” Adam Air. yang konon katanya juga dimiliki petinggi negeri ini. dan disusul pula bencana gempa disepanjang nusantara. dan tidak kalah melelahkanya. Banjir.

Presiden Bencana

Saya kira tidak ada yang lebih melelahkan dari kerja pemimpin-pemimpin kita sebelumnya dibanding kerja SBY saat ini terutama sekali dalam hal mengurus bencana. dan meski sangat ingin menghindari, namun tidak juga bisa ditampik bahwa SBY adalah presiden bencana.

kerja yang begitu melelahkan tentulah sebuah “takdir” sebagai presiden. namun ditambah dengan serangkaian bencana tidak bisa di hindari bahwa hal tersebut tentu kian menambah bobot turunnya akselerasi kinerja pembangunan.

alih-alih bisa kerja untuk fokus pada masalah penganguran, bila saat bersamaan harus mengurus Adam Air, alih-alih bisa memulai dan menebar kinerja disaat bersamaan Tsunami datang. dan seterusnya-dan seterusnya.

Skeptisisme

George Santayana dalam “Skepticism and Animal Faith” menuliskan ; “Sikap skeptis , dalam mempertanyakan segala sesuatu, merupakan benteng kemurnian cendekiawan, dan sangat memalukan jika benteng itu diserahkan terlalu cepat atau pada siapapun yang datang lebih dahulu—ada kemulian dalam menjaga benteng itu dengan sikap tenang dan rasa bangga melewati masa muda yang panjang, sampai akhirnya, benteng itu bisa dengan aman dipertukarkan dengan kebenaran”.

Pendapat George Santayana ini, buat saya memberikan dua ruang berpikir. apakah terlalu cepat kita memberikan cap SBY sebagai Presiden bencana. atau jangan-jangan pada awalnya rakyatlah yang harus di salahkan karena terlalu menggantungkan harapan-harapan besar pada SBY.

Dan kira saya piker harus melumatkan cara berpikir yangpertama karena proses berpikir ini mungkin saja bisa tidak relevan. Dan tidak fungsional untuk menyelesaikan persoalan, tapi setidaknya skeptisisme memang diperlukan untuk tidak memperlakukan masa depan dengan gegabah. termasuk saya kira perjalanan bangsa ini yang terlampau rumit untuk bisa di urai dan diselesaikan satu demi satu.

Jenis “Masalah”

Disatu sisi memang ada persoalan yang datangnya dari “langit” namun disisi lain, ada banyak sekali kekeliruan yang memang secara mata telanjang dilakukan dengan kecermatan yang minimal dengan tingkat profesionalisme yang amburadul. jika Tsunami memang datang dari “langit”.   Lalu bagaimana menjelaskan kasus Haji kelaparannya. jika Adam Air mungkin kecerobohan setengah manusia dan sisanya Takdir lalu bagimana dengan keluarnya dan ditarik kembalinya PP 37 tahun 2006. Khilaf?

Ini tentu dapat memberikan kejelasan, ada korelasi yang mulai terlihat sebagai kecompang campingannya pemerintahan ini dikelola. Sehingga bukan tidak mungkin banyak sekali keanehan yang akan muncul dan semakin terlihat kontradiktif satu sama lain. Disatu sisi   berniat sungguh-sungguh melawan korupsi, namun disisi lain seorang Koruptor yang sangat kemaruk. bisa “lolos” kembali menjadi gubernur.

Jika kita mau jujur untuk mengevaluasi terhadap kinerja pemerintahan saat ini pantas memunculkan sebuah kesimpulan ; betapa tragisnya nasib bangsa bila kekuasaan yang ada saat ini di tangan SBY-JK tidak mampu memfokuskan dirinya untuk memberikan manifestasi dari janji-janji untuk memulihkan perekonomian nasional. Bagaimana kita bisa menyatakan ekonomi telah pulih, apabila inflasi berlangsung tinggi, pertumbuhan berlangsung rendah, Dan persentasi kemiskinan menanjak. Sector real tidak bergerak, pengangguran meluas, perbankan tidak berfungsi, otonomi daerah yang saat ini sekedar retorika belaka dan KKN yang justru makin dominan dalam kehidupan bernegara. Dengan modus yang semakin tidak pernah terbayangkan pada era sebelumnya.

Untuk itu sebagai rakyat biasa kita hanya dapat berharap, semoga tidak terjadi kutukan yang mengerikan terhadap bangsa dan negara ini. Meski demikian kita perlu teramat hati-hati dan tidak mudah memberikan cap terhadap pemerintahan saat ini seraya berpikir ulang untuk tidak cepat juga menggantungkan harapan-harapan yang muluk kepada pemimpin manapun.

Waspadalah sebagai warga Negara dalam menjatuhkan pilihan. Dan terlebih lagi Hati-hati agar bangsa ini tidak terpikir untuk mengucapkan “Selamat Tinggal SBY”. Dalam bahasa Koreanya. Annyong-hi gyeseyo SBY.

25
Jan

kangen tp ma sapa ya?

harum aroma terkadang susah untuk di terka,…

kadang munkin kenzo… eh kok tiba2 mencium aroma eternity… eh kadang bulgari, davidov….. trs.. ada wangi… yg ini gw beneran ga tau aromanya apa.. tau aromanya tp ga pernah tau… nama aromanya…..warna rasa aromanya mirip kayu… tp begitu menggeletarkan birahi.. kuat…. dan menyengat…..

lagi nelangsa ke waktu lalu… ketemu si A.. si B sampe C… D…E… dan trs I..J..K.. L… trsssss…. ke Y…dan Z….aduh ga ngerti nih sama siapa sih benernya kangennya…

tapi ngomong2 gw pake parfum ga ya..kayanya sering banget dikritik soal ini soalnya …mungkin emang jarang menjadi wangi… Alah….dasar…..

15
Jan

keseimbangan kosmis

entah kenapa selain kesenangan tuhan juga menciptakan kesedihan. persis keduanya mendefinisikan keseimbangan kosmis, sehingga terkadang kita ga tau kapan sedih dan kapan senang. dan ditengah kesedihan kita juga sering justru tiba2 jadi senang dan juga sebaliknya di kala senang kita justru seolah merasa sendirian dan sedih. persis juga ketika ada siang dan ada malam. keduanya ciptaan sang maha Cinta sekaligus sang maha Murka. dialah Tuhan sang Maha Seimbang.

11
Jan

SBY dan Tebar Pesona

SBY dan Tebar Pesona

Dadan Hamdani

Warga Negara

Indonesia

No. KTP 32.75.07.1004.13403

Tiba-tiba “celetukan” Megawati rupanya cukup mengagetkan banyak pihak. Tidak terkecuali juga lingkungan terdekat orang nomer satu di republik ini, lantas saja Andi Malaranggeng seolah memberikan tanggapannya. Bahwa yang bersangkutan seharusnya lebih jernih memandang persoalan.

Lama tidak terdengar kabarnya, bahkan ketika masih berkuasa pun Ketua Umum PDI P ini yang sempat menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke lima ini jarang sekali membuat sensasi, terbiasa dengan gaya politik “diam itu emas”nya itu seolah sudah menjadi jurus handalan politiknya. Belum lagi bahasa senyum dan lambaian tangannya yang seolah mengarah pada “tebar senyum” dan “tebar lambaian”. Mungkin setidaknya bukan tebar pesona, seperti dalam “celetukannya” itu.

Mungkin memang ada benarnya dan SBY sendiri sepatutnya tidak perlu menjadi gusar, karena kegusaran SBY bisa sangat mungkin justru menjadi pembenaran bahwa memang pemerintahan ini baru sebatas bekerja pada wilayah “tebar pesona” dan baru sedikit sekali yang terlihat memberikan kontribusinya.

Bahwa pemerintahan ini banyak sekali mengalami terjangan yang bertubi-tubi sejak awal mula. Tsunami dan berbagai rentetan musibah demi musibah yang mengharusnya pemerintahan ini menyitakan banyak ruang dan perhatiannya bagi penyelesaian persoalan, belum lagi usai musibah satu, beruntun pula musibah lainnya susul menyusul.

tapi persoalannya memang bukan menyerahkannya pada kehendak nasib, Lumpur Lapindo misalnya, adalah bukti teramat nyata bahwa ada persoalan pada perangkat hukum pada pemerintahan ini, sehingga kecelakaan operasional sebuah persero justru menjadi tanggung jawab masyarakat dan pemerintah.

Ini tentu refleksi bahwa pemerintah tidak cergas dan tangkas menempatkan dirinya sehingga memberikan peluang yang memungkinkan melahirkan banyak persoalan lanjutan. Cara berpikir dan bereaksi dan bertindak pemerintah justru lamban disaat dibutuhkan percepatan dan sangat reaksioner dan terlalu grusuh justru disaat sepertinya dibutuhkan ketenangan bertindak. Seperti seharusnya menegaskan sikapnya untuk menunggu proses Pilkada yang dinilai masyarakat memiliki banyak kecurangan. Justru terlalu cepat diberikan lampu hijau untuk lanjut.

Disisi lain tindakan yang sepatutnya dijadikan prioritas nomer enam belas justru saat ini hadir menjadi PP seperti misalnya PP 37 tahun 2006 ini. Yang seolah menjilat liur yang sudah keluar. Ini sama halnya mendelegitimasikan dirinya ditengah angka kemiskinan yang justru membesar. Mungkin memprihatinkan bagi kita karena bukan saja paradoks tapi juga menyesatkan dan mendorong terciptanya ruang koruptif yang lebih tidak terbatas.

Politik Wacana Presiden SBY

Keluarnya PP 37 2006 sepertinya makin mempertegas bahwa SBY memainkan jurus politik wacana. Jadi keluarnya sebuah kebijakan justru akan menjadi perdebatan publik. Dan bukan jawaban atas banyak pesoalan. Karena justru akan memberikan pertanyaan dari masyarakat, jika kita memang berupaya focus untuk mengurangi kemiskinan, dan memberantas korupsi bagaimana mungkin keluarnya PP yang justru memberikan ruang akan semakin lebarnya kecemburuan antara eliat dan masyarakat.

Yang perlu disesali adalah berapa lama waktu untuk mampu keluar dari ruang perdebatan Apa sih maksudnya SBY? Seringkali lontaran ini keluar dari banyak kalangan sehingga mungkin sekali lagi dengan memakai mulut Megawati Soekarno Puteri. Bahwa SBY jangan hanya Tebar Pesona.

Setidaknya ada beberapa point yang perlu menjadi perhatian, pertama bahwa ada gap antara harapan dan kenyataan yang justru semakin diperlihatkan oleh sepak terjang pemerintahan SBY termasuk yang lebih terpenting adalah SBY dan dirinya sendiri. 

Yang kedua menjadi berkurangnya ruang sensitifitas Penguasa untuk mencoba melakukan mana prioritas pekerjaan dan mana wacana yang mestinya keluar dan mana yang seharusnya tidak perlu keluar. Ini tentu penting untuk menghindari biaya politik, waktu tempat dan ruang, sehingga energi masyarakat kita dimantapkan untuk focus mengejar mana yang menjadi prioritas yang sesungguhnya.

Ada

sebuah irama, birama, melodi yang diatur satu sama lainnya. Kapan ia harus berbunyi dan kapan pula ia harus berirama sehingga orchestrasi politik wacana tidak sekedar menjadi wacana politik yang berbalik menjadi boomerang dan asal tuduhan “Tebar Pesona”

Tiba-tiba Aa Gym, Kiai yang kondang tersebut menikah dan berpoligami. Tiba-tiba juga tidak kalah cepatnya SBY bereaksi untuk membangun  wacana anti poligami. Bukan hanya mendorong pemerintah menciptakan diskursus yang tidak produktif, melainkan juga tentu saja pemerintah masuk pada urusan yang terlalu kecil untuk sekedar mengurusi urusan rumah tangga warga Negara. Dan hasilnya polemic tetap sebuah polemik tanpa ada juntrungaannya. Dan kalau memakai bahasa anak muda saat ini. Capee deueh!!!

SBY bukan Presiden Musibah

Peristiwa demi peristiwa yang tidak kecil sejadinya menjadikan SBY sebagai Presiden musibah. Presiden yang seakan-akan kerjanya memang menangani musibah dan lagi-lagi musibah, mulai dari rentetan peristiwa. Terutama yang skala musibahnya boleh dikatakan sangat memprihatinkan dan mendapatkan perhatian dunia, Tsunami Aceh, Lumpur Lapindo, dan yang hamper membuat kita terkekeh jenaka ditengah kegetiran adalah Kelaparannya Jamaah Haji

Indonesia

dan dilanjuti sebagai pengawal musibah lainnya di tahun baru 2007 ini dengan hilangnya sebuah pesawat Adam Air yang keberadaannya baru ditemukan dalam bentuk puing-puing petunjuk.

Baru sebuah puzzle, baru berbentuk sepihan, puing-puing yang perlu dicari dan dipungut satu persatu jangan sampai tercipta dalam benak masyarakat bahwa pemerintahan ini membawa takdir ironi, yang memperlihatkan wajah nasib bangsa ini dengan wajah dan watak kepemimpinan yang semakin hari semakin memberikan tanda Tanya yang tak berujung. Persis seperti kita mencari satu persatu puzzle yang berupa serpihan nasib kita. What next?

Menyadarkan Permainan Teka-teki

Ala

SBY

Jurus, pola, rumusan kebijakan SBY yang seolah memperlihatkan permainan teka-teki. Seharusnya justru dijawab oleh SBY sendiri untuk memantapkan visinya dalam mengurangi pengangguran, memperkecil ruang disparitas dan kesenjangan sosial ekonomi, dan menghadirkan harapan disela-sela hadirnya musibah demi musibah. Sehingga energi bukan hanya tidak terbuang percuma juga termanfaatkan secara sangat pada tempatnya.

Celetukan mantan presiden RI berjenis kelamin wanita ini ternyata memang bukan celetukan main-main. Setidaknya pembacaaan kita bahwa seorang Megawati saja harus keluar dari sarang “diam itu emas” nya. Hanya untuk sekedar membuat sebuah pernyataan SBY jangan Tebar Pesona! Ini menjadi serius lantaran kita tentu mulai juga sama-sama greget-nya dengan

gaya

SBY. Dan sekaligus tentu saja menegaskan kondisi makin meluasnya ketidaksabaran yang dengan sangat pintar dibaca oleh Megawati, tentu hitung-hitung untuk latihan bicara saat 2009 nanti menjelang mungkin.

Ketidak tegasan menjadi sangat kentara dimana-mana, Ambiguitas seolah menjadi santapan pers karena pola kebijakan dan rumusan kebijakan justru memperlihatkan pembiaran atas wacana. Dan tidak ada habis-habisnya energi kita di arahkan untuk berwacana atas wacana itu sendiri. Persoalan poligami lah, tiba-tiba menjadi urusan SBY.

Pola-pola seperti ini solah menjadi pola dan patron untuk tidak menuliskannya sebagai jurus SBY. Kebobrokan Pilkada Banten misalnya, seharusnya sebagai pemegang mandat Rakyat

Indonesia

secara menyeluruh ini mampu memberikan ketegasannya. Karena melihat begitu bobrok dan curangnya Pilkada di Banten pada waktunya akan menjadi Bom Waktu sendiri bagi SBY dikarenakan what next jika saatnya Bom waktu itu meledak?

Dan seolah kita-masyarakat dibiarkan oleh sebuah premainan musim teka-teki atas

gaya

dan ambiguitas SBY dalam banyak hal.

Jika Tidak Sekarang Kapan lagi, Jika tidak dari SBY siapa lagi

Kita sangat mendamba begitu dalamnya memiliki pemimpin sekaliber SBY yang kemampuan dan kapabilitas pribadinya secara personal mungkin lebih sedikit lebih baik dari beberapa Pendahulunya. Tapi persoalannya adalah memang bukan Pemimpin yang tebar pesona yang kita inginkan, melainkan Presiden yang bertindak.

Oleh karena itu rakyat membutuhkan kerja kongkrit,

Indonesia

ini bukan permainan teka-teki untuk sekedar menunggu jawaban dari mentor yang memberikan soal. Tapi bangsa kita ini membutuhkan mentor yang justru langsung sigap memberikan jawaban. Dan pada kapasitas itulah saya kira rakyat menunggu jawaban-jawaban, lugas tegas dan langsung.

Orchestrasi alunan wacana yang ditabuh SBY justru kurang memberikan jawaban memuaskan dan selalu saja berkelindan dengan lahirnya wacana baru yang tidak jelas juntrungannya lagi-lagi meminjam bahasa anak muda capee deueh!!!

27
Dec

hari ini ku jenguk rumah batin mu

dan hari ini ..kuberanikan diri tuk menjenguk rumah batinmu.. dan sepertinya sudah terasa begitu lama.. bukan begitu..

sudah juga menitipkan dahaga yang lumayan mengental.. dan akhirnya kuberanikan untuk menjenguk rumah batinmu.

tanpa terasa.. memang cukup lima menit berlalu.. dan itu cukup bagiku meskipun kunjungan ini sudah kuduga akan begitu singkat seperti biasanya karena pasti akan selalu ditutup dengan kata-kata "besok lagi aja ya" sebuah kata bersayap memang.

namun rasanya kunjungan kali ini 5 x lebih banyak dari hanya seperti biasanya…

terimakasihku untuk mu yang sudah menerima kunjungan hatiku yang kesekian kali.. mungkin lidah ini jadi tercekat dan suara inipun berubah dari bass ke bariton dan naik turun diantara itu.. dengan seikit batuk-batuk segala.. ah…

setidaknya kunjungan batin ini selaksa mengguyut hujan yang sekian lama kerontang di tempa musim kemarau berpanjang…

Thanx L : yang dikaruniai daun talam.(bak dewi)

16
Dec

Dua Tahun Genap

Dua tahun.. yah genap sudah dua tahun, dan memang tak pernah terasa sepertinya, mungkin hari ini dengan hari ketiga seminggu setelah kau pergi Dam.

Pada saat Iedul Fitri Kemarin, kau memberi pesar pada ku. bahwa kau memakai baju baru. dengan senyum lepas seperti biasa.

Siapapun yang engkau titipkan pesan darimu padaku. aku berterimakasih sekali. atau sekalipun itu jin yang berkeliaran untuk sekedar menitip salam mu pada ku Adam.

Adam. Dua tahun sudah dan tak terasa. betapa kami tak seperti kehilangan. bahkan kamu masih seperti menemani Dody, seperti masih ada untuk menunggu sarapan nasi goreng ikan asin bikinan Ua. atau saling berebutan Teri Pedas Goreng dengan Aa.

Dam, Maaf. obituari ini agak terlambat. meski akan tetap teringat tanggal 10 Desember 2004 adalah hari kepergianmu menuju semesta yang tak berhingga ini. Aa hanya bisa memberikan hadiah doa :

Ya Robbana, Wahai Penciptaku, Wahai Engkau  Penguasa segenap Alam sekalian. Engkau telah menjemput Adiku, berilah tempat yang indah disisimu, karena Engkau telah menjemputnya dengan senyum, Maka berikanlah kebahagiaan Adikku Selalu. Jagalah Ia dari siksa neraka dan janganlah berikan ia kesenggsaraan lagi setelah ia menerima banyak ujian di duniaMu Ya Allah. Berikanlah "Baju Terindah" yang dimiliki orang-orang yang telah lulus dalam ujian MU wahai Penguasa Segenap Alam sekalian.

Amin..

Amin Ya Rabbal Alamin.

18
Aug

mimpi masa kecil

Seorang guru bermaksud melatih anak-anak didiknya di sekolah dasar untuk memupuk rasa percaya diri mereka. Guru tersebut meminta mereka untuk memperkenalkan diri sekaligus mengungkapkan cita-cita mereka.

Doddi berdiri dan berkata, "Nama saya Dodi. Kalau besar nanti saya ingin menjadi pilot, jadi saya bisa pergi ke Amerika, Eropa, Australia dan sebagainya",

"Bagus sekali Dodi. Terimakasih. Siapa lagi?", tanya Bu Guru.

Seorang anak perempuan yang duduk di tengah berdiri dan berkata, "Nama saya Shanti. Kalau besar nanti, Shanti ingin jadi ibu rumah tangga dan punya anak yang manis."

"Bagus. Jadi ibu rumah tangga merupakan cita-cita yang mulia. Siapa lagi?".

Si Zaenal berdiri dan berkata, "Saya Zaenal, nanti kalau sudah besar saya akan membantu Shanti mencapai cita-citanya…..".

sebenernya cerita ini punya korelasi sama kehidupan gw sendiri.. gw inget banget my 1st love.. namanya Anita Setiawati. sebuah nama yang bener2 ga bisa gw lupain.. kali… Gadis paling pinter, cerdas dan menjanjikan. dulu gw bukan tipe orang yng mudah Ge-eR.. sampe akhirnya kok nih ce mandangin gw mulu tiap hari, semenjak kejadian di "kantin" pas gw salah ngasih uang buat bayar. sejak itu kok hari2 jadi beda.

cita-citanya jadi dokter, dan persis seperti cerita diatas… kok gw juga pengen jadi bagian dari cita-cita dia. gw ngebayangin klo gw bisa nemenin dia PTT di kampung pelosok.. nun jauh disana…. wuih romantis banget kali… hahahaha..

but itu dulu.. sementara cita-cita anita memang kesampaian … klo gw sialnya.. begitu beda kampus.. ternyata dia dah keduluan orang… hahaha.. alias dah merid…ama kakak kelasnya… yah gitu deh hidup…

what a simple dream….It was……

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(sapardi djoko damono)

16
Aug

Kepadamu Negeri ?

Kepadamu Negeri ?

Kepadamu Negeri, aku mengabdi

Kepadamu Surti, aku mengerti

Bahwa bayi yang kau kandung itu nyatanya milik kita, milik cinta kita. Waktu iseng-iseng di bawah pohon kelapa. Tiba-tiba saja dagumu, menyentuh daguku tepat ketika bibirku melahap bibirmu. Dan itupun tepat ketika kau membuka bajuku dan tentu saja akupun tahu apa yang kau mau !

Lalu beginilah sekarang kita, Surti.

Aku mengerti apa maumu, kau memang berpandangan jauh ke depan. Bahwa bayi yang kau kandung ini akan kita sumbangkan untuk negeri ini. Biar besar nanti jadi kuli bagi mereka yang menjadi pemilik negeri. Dan iilah usaha kita memamah biak sumber daya. Yang di peruntuk kepadamu negeri ! 

(lumayan sumbangan untuk 17 agustusan)

13
Aug

ya Rasanya.. aku sudah mulai Butuh bantuanmu

Ya ..Tuhan sesembahanku..

Ya.. Linga tempat segala sesuatunya kembali padamu..

Ya..oknum yang maha tak terperikan dan terdefinisikan….

Ya..Rabbi yang namamu telah menghadirkan segala eksistensi…

Wahai..Cinta yang murka nya tak terbayangkan..

Wahai ..pembuat semesta yang mampu melenyapkannya dalam sekejap mata..

Wahai..maskulin sekaligus feminimitasnya dalam beragam ciptaan..

Wahai..engkau yang aku terlalu getar untuk menyebutnya…

Wahai..maha perkasa sekaligus penyayang….

Aku hanya bocah tolol penghuni semesta ingin menangis…

Wahai..Engkau yang tak bernama namun mewakili segala nama..

Aku rasanya membutuhkan sepercik pelita darimu..

Wahai..Engkau yang menghadirkan Ada dari Ketiadaan..

dengarlah jeritan ini… Aku sudah mulai membutuhkanmu….

Wahai..Engkau tempat segala pemintaan terpanjatkan…

Aku…memohon dengan segenap isak dan tangis dan sesal tak terbayangkan…

meski terasa begitu degil dan naif permohonan hambamu ini..

Ampunilah diriku….luruskanlah niatku, dan perbekalah aku dengan rahmat dan ampunanmu selalu. permudahlah urusanku didunia ini.. dan permudahlah pula urusanku di akhirat kelak…selamatkan aku didunia ini Wahai.. Pencipta semesta dan Selamatkan aku diakhirat kelak… kau yang maha tahu atas jeritanku ini…

Amin..